Pemprov. Sulsel Himbau Petani Tanam Kedelai
Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sulawesi Selatan menghimbau petani agar menanam kedelai sebagai alternatif jika terjadi lonjakan harga kedelai impor seperti saat ini. Walau kualitas kedelai lokal masih sangat jauh dari kedelai impor tapi tidak ada salahnya petani mau menanam, Hal ini dikatakan Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri Disperindag Sulsel, Ahmad Habib, Rabu, 25 Juli 2012 di Makassar. Dalam beberapa pekan terakhir harga kedelai impor terus merangkak naik. Kini harga kedelai impor mencapai Rp 8.100 per kg, pekan lalu harganya masih Rp 7.750 per kg lalu naik menjadi Rp 7.800 sampai dengan Rp 7.950 dan hingga kini menjadi Rp 8.100. Kondisi tersebut tentu berdampak langsung pada industri tahu dan tempe.
Produksi kedelai di Sulawesi Selatan masih minim karena lahan pertanian tergerus tanaman padi dan jagung, iklim di Sulsel mempengaruhi kualitas kedelai kurang baik. Tahun ini produksi kedelai Sulawesi Selatan mencapai 33.720 ton biji kering atau turun 1.850 ton dari 2011 lalu. Naiknya harga kedelai impor tidak mampu diantisipasi oleh Disperindag Sulsel. Ini bukan soal regulasi harga masuk, ini murni karena kekurangan bahan dasar dari negara pengimpor. Jadi kami tidak bisa berbuat apa-apa selain berusaha mencari alternatif lain. Tingginya harga kedelai impor yang masuk ke Sulawesi Selatan mengakibatkan sejumlah pengrajin dan pedagang tahu dan tempe mengeluh karena omset mereka menurun hingga 40%.
Salah satu pengrajin tahu di Makassar, Hendro mengatakan, sebelum lonjakan harga kedelai impor ini, omsetnya per hari bisa mencapai Rp 600.000 per hari. Namun setelah lonjakan harganya yang berkali-kali dalam beberapa pekan terakhir omset hariannya hanya mencapai Rp 360.000. Lonjakan harga kedelai ini sangat menyulitkan usahanya karena untungnya sangat tipis, kalau ini terus berlangsung bisa-bisa malah merugi. Akibat harga impor kedelai yang tinggi ini, mereka harus mengurangi produksi tahu dan tempe. Menurut Hendro, pengurangan produksi tersebut dilakukan karena sulit membeli bahan baku kedelai yang harganya melambung. Disisi lain, juga melihat pembeli yang menurun karena harga tahu dan tempe ikut naik. Jika biasanya untuk memproduksi tahu dalam sehari menyediakan 5 karung kedelai, kini hanya menyediakan 3 karung saja per hari.
Nh/Ys ( Kamis, 26 Juli 2012 )