Wagub Minta Pertamina Mengawasi Ketat Distribusi Solar
Wakil Gubernur meminta pertamina mengawasi dan mengatur lebih ketat distribusi BBM jenis solar. Kelangkaan solar diindikasikan dampak aksi penimbunan yang dilakukan pihak tertentu. Padahal solar sangat vital, karena juga digunakan kendaraan seperti bus dan truk untuk distribusi barang ke beberapa daerah. Jangan sampai distribusi barang terhambat karena pengusaha sulit mendapat truk. Kenaikan harga bisa terjadi bila distribusi kebutuhan pokok terganggu. Hal tersebut disampaikan Wakil Gubernur Sulawesi Selatan, H.Agus Arifin Nu’mang di Kantor Gubernur Sulsel, Selasa, 3 Juli 2012.
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulsel mengkhawarirkan kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar menjelang Ramadan. Ancaman kelangkaan ini diperoleh dari warga yang mengeluhkan stok solar di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Makassar dan sekitarnya.
Informasi soal kelangkaan solar ini diakuinya menjadi perhatian serius Pemprov Sulsel, karena dipastikan akan mempengaruhi distribusi barang kebutuhan pokok. Modal transportasi yang digunakan untuk distribusi barang kebutuhan pokok sebagian besar menggunakan solar. Kebutuhan masyarakat akan barang dipastikan meningkat menjelang Ramadhan.
Untuk memastikan ketersediaan solar dan BBM bersubsidi lainnya menjelang Ramadan dan Idul Fitri nanti, dalam waktu dekat ini pihaknya akan memanggil PT Pertamina Regional VII Makassar untuk mencari solusi. Pihak PT Pertamina Regional VII Makassar mengakui jika stok BBM bersubsidi jenis solar dan premium masih aman dalam rangka menghadapi Ramadan dan Idul Fitri 1433 H.
Namun, diakui bahwa beberapa waktu belakangan ini konsumsi solar mengalami kenaikan hingga 12% dari kuota yang diberikan Pemerintah Pusat untuk Sulsel. Namun,meningkatnya konsumsi solar ini dinilai janggal karena di saat yang sama jumlah pertumbuhan kendaraan jenis diesel di Sulsel tidak terlalu signifikan.
Sales Representative Area Makassar PT Pertamina Regional VII, Muhammad Iswahyudi menduga terjadi penimbunan solar yang dilakukan oleh oknum tidak bertanggungjawab untuk dimanfaatkan bagi kepentingan industri. Adanya perbedaan atau disparitas harga yang tinggi antara BBM bersubsidi, seperti premium dan solar, dengan BBM yang tidak disubsidi untuk industri, membuat potensi penyalahgunaan sangat besar. Modus yang digunakan oknum tidak bertanggungjawab ini yakni dengan mengisi kendaraan truk dengan solar di SPBU dalam skala besar. BBM itu kemudian ditimbun, dan disalurkan ke perusahaan pertambangan dan industri. Pihaknya mengimbau masyarakat untuk segera melaporkan setiap hal yang mencurigakan di SPBU, apalagi jika melihat ada pembelian BBM bersubsidi dalam jumlah besar. Ada juga modus membeli solar di SPBU, kemudian ditumpah ke jeriken, lalu kembali lagi mengisi di SPBU. Beliau menambahkan untuk pengawasan tersebut, pihaknya telah menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan aparat kepolisian.
Terhadap objek-objek vital seperti SPBU dan lainnya, juga dilakukan pengamanan. Jika ditemukan adanya kerjasama penimbun dengan SPBU, pertamina mengaku siap memberikan sanksi keras. Sementara itu ,Ketua Dewan Pengurus Daerah Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (DPD Hiswana Migas) Sulsel, Burhanuddin Lestim mengakui stok solar mulai normal kembali.
Kelangkaan solar di seluruh SPBU di Sulsel, termasuk di Makassar sudah berlalu dua atau tiga pekan lalu. Kelangkaan terjadi karena stok yang terbatas. Namun setelah pemerintah menambah kuota penyaluran solar ini kembali lancar.
Sr/An (Rabu, 4 Juli 2012)