Pertemuan Gubernur Sulsel dengan Kepala Badan Pengawasan Tenaga Nuklir
Khusus di Sulawesi Selatan, tidak kurang dari 130 titik nuklir akan beroperasi. Diantaranya, 80 untuk kesehatan dan 50 untuk industri. Hal tersebut terungkap dalam pertemuan antara Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) Indonesia, As Natio Lasman dengan Gubernur Sulsel, H. Syahrul Yasin Limpo di ruang kerja gubernur, Selasa 10 April 2012.
Program nuklir di Indonesia dimaksudkan guna membangun dan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi nuklir baik di bidang non-energi maupun di bidang energi untuk tujuan damai.Pemanfaatan non-energi di Indonesia sudah berkembang cukup maju. Sedangkan dalam bidang energi (pembangkitan listrik), hingga tahun 2011 Indonesia masih berupaya mendapatkan dukungan publik.
Kepala Bapeten, As Natio Lasman menjelaskan nuklir terbagi atas dua, energi dan non energi. Yang beroperasi di Sulsel adalah nuklir non energi yang pemanfaatannya untuk teknologi kesehatan dan industri. Nuklir non energi di bidang medis, misalnya X-Ray. Inilah yang kita awasi, agar pemanfaatannya tidak melebar. Pemanfaatan nuklir non energi yang melebar, bisa berdampak pada perkembangan sel-sel tubuh manusia jika terjadi berulang-ulang. Misalnya, sel-sel tubuh yang tadinya normal bisa berubah menjadi tidak normal atau sebaliknya. Pengawasan tetap jalan, agar nuklir non energi ini pemanfaatannya tidak melebar. Kalau di Sulsel, rumah sakit yang memanfaatkan teknologi ini seperti Rumah Sakit Wahidin Soedirohusodo dan Rumah Sakit Universitas Hasanuddin.
Terkait pengawasan, As Natio Lasman mengatakan Bapeten melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait. Misalnya, dengan gubernur hingga aparat penegak hukum. Intinya, teknologi nuklir ini harus dimanfaatkan sesuai koridor dan mekanisme. Di Sulawesi Selatan, pemanfaatannya sudah sangat baik.
Menanggapi hal itu, Gubernur Sulsel, H. Syahrul Yasin Limpo mengatakan masalah nuklir di Sulsel masih sangat asing. Tetapi, jika pemanfaatannya di bidang kesehatan, tentunya memang harus diporsir. Apalagi Sulsel khususnya Makassar, menjadi rujukan atau hubungan kesehatan di luar Pulau Jawa. Meskipun, nuklir ini masih asing untuk rakyat Sulsel. Tidak ada satupun negara di dunia ini yang maju tanpa memanfaatkan tenaga nuklir. Apalagi, di bidang kesehatan dan industri. Tetapi di Sulsel, tentunya harus masuk pada pendekatan-pendekatan yang sesuai mekanisme atau koridor. Kalau memang harus memakai nuklir, kami siap. Intinya, semuanya bermuara pada kepentingan rakyat dan berjalan pada koridor yang ada.
An/Sr (Rabu, 11 April 2012)